Jakarta (ANTARA) - Pakar energi dari Universitas Padjajaran (Unpad) Yayan Satyakti memprediksi harga minyak dunia bisa naik hingga 100 dolar AS per barel dari kisaran 72 dolar AS per barel dengan skenario penutupan Selat Hormuz.

“Jika ditutup saat ini, besok lusa bisa mencapai langsung 90–100 dolar AS per barel,” ujar Yayan ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin.

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, terletak di antara Oman dan Iran, dan menjadi rute utama perdagangan energi global.

Di selat ini mengalir sekitar seperlima dari total ekspor minyak dunia, termasuk sebagian besar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, sebelum dikirim ke pasar internasional.

Dengan demikian, dia menyampaikan Selat Hormuz menjadi titik yang krusial dalam konflik antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel.

“Jika Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak akan naik menjadi 50 persen,” ucapnya.

Oleh karena itu, Yayan menyampaikan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) tak dapat dipungkiri bagi Indonesia yang mengimpor minyak dari wilayah Timur Tengah. Tanpa penutupan Selat Hormuz pun, lanjut dia, konflik yang saat ini berlangsung di Timur Tengah bisa meningkatkan harga minyak di kisaran 10–25 persen.

Mempertimbangkan lonjakan harga minyak yang melampaui asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni 70 dolar AS per barel, dia mengingatkan pentingnya pemerintah untuk mengantisipasi pembengkakan anggaran.



Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026