Denpasar (ANTARA) -

Tim Peneliti dari Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana (Unud) Bali mengungkapkan keracunan logam berat dan minyak menjadi penyebab kematian mendadak pada ratusan pohon mangrove di kawasan Benoa, Denpasar.

“Tanaman sakit dan mati karena terserang penyakit abiotik salah satunya karena keracunan logam berat dan senyawa hidrokarbon (minyak),” kata Koordinator Tim Peneliti RS Pertanian Unud Dr Dewa Gede Wiryangga Selangga dikonfirmasi di Denpasar, Kamis.

Ciri utama faktor abiotik adalah pola kematian tanaman yang tidak sporadis dan cenderung pada populasi blok yang sama dan tidak menyebar.

Ia bersama peneliti lain telah melakukan diagnosis penyakit tumbuhan ke lokasi di sisi barat gerbang Tol Bali Mandara Benoa dan menemukan ratusan pohon mangrove mati dengan gejala awal daun menguning, daun kecokelatan, kulit batang mengelupas, pertumbuhan kerdil, busuk akar/hitam, dan penebalan daun.

Dalam hasil diagnosis itu, tim menyebutkan kontaminasi hidrokarbon di dalam ekosistem mangrove biasanya masih ada di dalam sedimen tanah.

Minyak yang masuk ke dalam pori tanah akan menutupi akar tanaman dan bersifat beracun.

“Senyawa aromatik yang ada dalam bahan bakar minyak bisa merusak membran sel tanaman, mengganggu cara tanaman menyerap nutrisi dan menyebabkan kematian pohon dalam beberapa minggu setelah terpapar,” ungkap tim tersebut dalam hasil diagnosis.

Pihaknya mencatat spesies terdampak per Februari 2026 yaitu Sonneratia alba (prapat) pada luas lahan estimasi mencapai enam are sebagai area intensif dengan penyebab karena rembesan minyak.

Kemudian jenis Rhizophora apiculata (bakau) dengan estimasi luas terdampak 60 are sebagai area sebaran diduga disebabkan kebocoran pipa distribusi serta jenis Avicennia marina (api-api) di blok barat tol yang diduga karena residu pemeliharaan pipa.

Tim peneliti itu juga memberikan rekomendasi kepada para pihak terkait untuk penanganan yaitu melakukan pemantauan kesehatan mangrove, isolasi bakteri pendegradasi minyak bumi.

Kemudian audit lingkungan infrastruktur energi misalnya mengganti pipa melewati umur pakai teknis dan menginstal sensor yang bisa mendeteksi kebocoran.

Selain itu, moratorium dan penegakan hukum, penanganan lumpur yang mengeras dan menghilangkan sisa minyak agar substrat mendukung pertumbuhan biji baru serta mengganti kerusakan tanaman yang mati dengan penanaman kembali pada lahan mangrove yang lain.

Manager Komunikasi, Relasi dan CSR Pertamina Patra Niaga Wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Ahad Rahedi pada Sabtu (21/2) mengatakan pihaknya melakukan investigasi penyebab pohon mangrove mati tersebut.

Ia menjelaskan dari hasil pengamatan visual sementara oleh tim dari Terminal BBM Pesanggaran, fasilitas yang berada dekat dengan lokasi terdampak, tidak menemukan adanya lapisan minyak ataupun bau menyengat dari BBM.



Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026