Denpasar (ANTARA) -

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mencatat indeks harga properti residensial di Pulau Dewata tetap tinggi pada akhir 2025 dengan pertumbuhan 1,06 persen.

“Harga properti residensial di pasar primer pada triwulan IV 2025 masih tetap solid,” kata Kepala Perwakilan BI Bali Erwin Soeriadimadja di Denpasar, Kamis.

Meski begitu, secara periode tiga bulanan indeks tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 1,08 persen berdasarkan hasil survei indeks harga properti residensial.

Pada akhir 2025, indeks properti perumahan di Bali tergolong tinggi, ditopang oleh kenaikan indeks harga di tiga tipe rumah yaitu kecil dengan luas bangunan kurang dari atau sama 36 meter persegi mencapai sebesar 1,57 persen.

Kemudian tipe rumah menengah dengan luas bangunan 36-70 meter persegi dengan kenaikan sebesar 1,12 persen dan tipe rumah besar dengan luas bangunan di atas 70 meter persegi mencapai 0,82 persen.

Menurut Erwin, indeks harga rumah di Bali didorong oleh kenaikan harga bangunan karena kenaikan harga faktor produksi.

Adapun mayoritas responden menyatakan kenaikan harga bahan bangunan dan upah kerja menjadi kontributor utama dalam peningkatan harga unit rumah.

“Di tengah tren harga properti yang meningkat, pengembang menilai faktor suku bunga KPR, keterbatasan lahan, pajak, uang muka rumah menjadi penghambat utama penjualan properti residensial primer di Bali,” ucapnya.

Sementara itu, dari sisi pembiayaan, survei menunjukkan sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti residensial di Bali bersumber dari dana pengembang sendiri dengan pangsa sebesar 55,9 persen.

Kemudian diikuti oleh pinjaman bank, dana nasabah, serta pinjaman lembaga keuangan non bank.

Dari sisi konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih mendominasi pembelian rumah dengan porsi sebesar 62,4 persen dari total pembiayaan.



Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026