Badung (ANTARA) - Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Bali menjelaskan cuaca berawan di Pantai Sekeh, Kabupaten Badung membuat hilal awal Ramadhan belum terlihat oleh tim pemantau melalui teleskop.
“Alatnya tidak bisa menembus awan ini, secara detail kami juga coba melihat tadi tidak bisa hanya yang bisa dilihat awan saja,” ucap Kepala Kanwil Kemenag Bali I Gusti Made Sunartha di Kabupaten Badung, Selasa.
Ia menjelaskan faktor cuaca itu mempengaruhi penglihatan tinggi hilal -1,219 derajat atau masih jauh di bawah standar kesepakatan.
Melihat kondisi tersebut diperkirakan 1 Syawal atau awal Ramadhan 1447 Hijriah tidak jatuh pada 18 Februari 2026.
“Kami hanya melaksanakan tugas, apa pun hasilnya itu dari pengamatan, ini kondisi alam masalahnya, tapi apa pun hasilnya itu yang kami laporkan nanti ke pusat,” ujar Sunartha.
Pemantauan hilal oleh Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar yang dikoordinasi Kemenag Bali sudah beberapa kali berlangsung di lokasi yang sama yaitu Pantai Sekeh, Kabupaten Badung.
Meski terbuka opsi untuk kembali mengubah lokasi pemantauan setelah sebelumnya juga pernah dilakukan di Kabupaten Jembrana, namun Kepala Kemenag Bali menyampaikan pemindahan lokasi bukan hal mudah, sebab diperlukan kajian lebih jauh dan tetap memperhatikan potensi dampak cuaca.
Sementara itu, Pengamat Meteorologi Geofisika (PMG) Pertama BMKG Wilayah III Denpasar Salman Alfarisi menambahkan langit pantai yang berawan tidak hanya menghalangi penglihatan terhadap Bulan, bahkan juga Matahari.
Atas kondisi pantauan yang berlangsung hingga pukul 18.44 Wita itu dapat dipastikan hilal tak nampak dari Pantai Sekeh.
“Pengamatan hari ini berdasarkan penampakannya langit sangat berawan, penguapannya cukup tinggi, Matahari sendiri sulit terlihat hilalnya, jadi mustahil teramati,” ucapnya.
BMKG menjelaskan hilal akan terlihat jelas jika anak Bulan berada pada ketinggian 6 derajat di atas ufuk dengan kondisi langit tidak berawan, yang diperkirakan kondisi itu akan terjadi pada Rabu (18/2).
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026